Kapolda NTT Akui Kritik Terhadap Polri sebagai Evaluasi dan Perbaikan

Imanuel Lodja | Selasa, 04/03/2025 07:32 WIB

Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT), Irjen Pol Daniel Tahi Monang Silitonga menanggapi maraknya tagar-tagar kritikan terhadap Polri yang ramai di media sosial belakangan ini. 
  Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT), Irjen Pol Daniel Tahi Monang Silitonga menanggapi maraknya tagar-tagar kritikan terhadap Polri yang ramai di media sosial belakangan ini.
KATANTT.COM--Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT), Irjen Pol Daniel Tahi Monang Silitonga menanggapi maraknya tagar-tagar kritikan terhadap Polri yang ramai di media sosial belakangan ini. 
 
Jenderal polisi bintang dua ini menyoroti fenomena ini sebagai bentuk ketidakpuasan masyarakat yang harus dijadikan bahan introspeksi bagi seluruh anggota kepolisian. Beberapa tagar yang tengah viral seperti #noviralnojustice, #percumalaporpolisi, dan #satuharisatuorangkorbanpolisi menjadi sorotan utama. 
 
Tak hanya itu, muncul pula tagar baru seperti #bayarbayarbayar, yang dipopulerkan oleh grup musik Sukatani asal Jawa Tengah, serta #kaburajadulu dan #Indonesiagelap. 
 
Tagar-tagar ini, menurut mantan Kapolda Papua Barat ini merupakan bentuk kekecewaan publik terhadap segelintir oknum polisi yang mencoreng citra institusi.
 
Daniel Tahi Monang Silitonga menegaskan bahwa meskipun mayoritas anggota kepolisian telah bekerja dengan baik, pelanggaran oleh beberapa oknum dapat menutupi berbagai pencapaian positif.
 
“Saya melihat kalian bekerja luar biasa, bahkan melebihi panggilan tugas. Namun, perilaku negatif segelintir anggota kita membuat masyarakat kecewa. Itulah yang memunculkan tagar-tagar ini,” ujarnya pada Selasa (4/3/2025) di Polda NTT.
 
Kritik publik, tandas Daniel Tahi Monang Silitonga tidak selalu bermakna kebencian, melainkan tanda bahwa masyarakat masih peduli terhadap institusi Polri. "Jika kritik tak lagi muncul, justru hal itu menunjukkan bahwa masyarakat telah apatis," ujarnya.
 
Orang nomor satu di jajaran Polda NTT ini menggunakan perumpamaan pohon yang menyerap racun dan menghasilkan oksigen untuk menggambarkan peran kepolisian.
 
“Seorang polisi harus mampu menyerap kritik dan keluhan masyarakat, lalu mengolahnya menjadi kebaikan. Seperti pohon yang menyerap polusi dan mengeluarkan udara segar, kita juga harus menerima kritik dengan lapang dada dan menjadikannya sebagai bahan perbaikan,” tegasnya.
 
Daniel Tahi Monang Silitonga juga mengingatkan seluruh jajaran untuk menjaga citra kepolisian dengan terus memberikan pelayanan terbaik.   Kesalahan satu anggota, menurutnya, dapat menghapus kepercayaan yang telah dibangun oleh ribuan polisi lainnya.
 
“Ada pepatah, kemarau setahun dihapuskan oleh hujan sehari. Ribuan polisi berbuat baik, tapi satu saja yang melanggar, maka semua usaha kita bisa hancur,” ujarnya mengingatkan.
 
Ia berharap, di masa depan, masyarakat bisa melihat Polri dalam cahaya yang lebih positif. “Kita ingin melihat tagar seperti #PolriIdolaku, #PolisiKebanggaanku, dan #AkuInginSepertiPolisi. Tapi itu tidak bisa dibeli, tidak bisa dipaksakan. Itu hanya bisa diperoleh dengan kerja keras, kejujuran, dan dedikasi kita kepada masyarakat,” ungkapnya.
TAGS : Polda NTT Kritik Tagar Evaluasi