Pembangunan Kesehatan Bagian dari Salah Satu Pembangunan Nasional

Yansen Bau | Kamis, 16/05/2024 11:25 WIB

Pembangunan kesehatan merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat secara mandiri agar pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat diwujudkan. Kemenkes RI gelar simulasi penanggulangan kejadian berpotensi Wabah atau KKM di PLBN Motaain, Desa Silawan, Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL, Rabu (15/5/2024).

KATANTT.COM---Pembangunan kesehatan merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat secara mandiri agar pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat diwujudkan.

Hal itu sesuai dengan undang-undang no. 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular serta PP no. 40 tahun 1991 tentang penanggulangan wabah penyakit menular mengatur agar setiap wabah penyakit menular atau situasi yang dapat mengarah ke wabah penyakit menular (kejadian luar biasa-KLB) harus ditangani secara dini.

Demikian Bupati Belu, Agus Taolin dalam sambutanya saat simulasi penanggulangan kejadian berpotensi Wabah atau KKM yang digelar Kemenkes RI di PLBN Motaain, Desa Silawan, Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL, Rabu (15/5/2024).

Dikatakan bahwa, padatnya jalur penerbangan, pesatnya mobilitas manusia antar negara serta globalisasi perdagangan barang dan hewan berimplikasi pada meningkatnya jalur perdagangan barang dan hewan, yang akan meningkatkan faktor dan vektor penyakit di seluruh dunia.

Menurut Taolin, kejadian kedaruratan kesehatan masyarakat (KKM) atau kejadian luar biasa penyakit potensi wabah dapat terjadi secara importasi yaitu sumber kedaruratan berasal dari luar wilayah dan episenter yaitu sumber kedaruratan berasal dari wilayah kerja kedua kondisi tersebut dapat timbul dalam situasi yang tidak dapat diprediksi.

Unpredictable sehingga kemampuan pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam mencegah (to prevent), mendeteksi dini (to detect). Menangani kasus sedini mungkin (to response) akan mempengaruhi sejauh mana besaran kejadian kedaruratan tersebut.

"Sebagai bagian dari upaya menanggulangi kedaruratan dari importasi dan episenter maka semua pihak yang mempunyai tugas dan fungsi dalam penanggulangan kedaruratan, seyogyanya terlibat dan mendefinisikan tugas dan fungsinya secara spesifik untuk melaksanakan tanggap darurat kesehatan yang adekuat maka koordinasi, kolaborasi, integrasi dan komunikasi antar unit organisasi harus berjalan dengan baik yang tersusun dalam suatu rencana kontingensi yang perlu di cek dan dievaluasi kesiapannya melalui suatu kegiatan simulasi," ujar dia.

Diutarakan, penyakit Cholera merupakan salah satu penyakit yang masuk dalam kriteria penyakit karantina yang dapat menimbulkan wabah. Walaupun saat ini di Kabupaten Belu dan di negara Indonesia sudah tidak terdapat penyakit Cholera.

Namun kewaspadaan dan kesiapan semua pihak sangat penting dalam menanggulangi penyakit Cholera terutama di pintu masuk atau PLBN antar negara seperti di Motaain, Kabupaten belu mengingat negara tetangga memiliki akses langsung ke negara-negara yang berpotensi terjadinya penyakit Cholera.

"Untuk mengecek kesiapan semua pihak yang terlibat dalam upaya penanggulangan penyakit berpotensi wabah maka perlu dilakukan kegiatan simulasi penanggulangan penyakit Cholera, sehingga petugas, masyarakat dan semua pihak yang terlibat dalam upaya penanggulangan Cholera dapat memahami cara penanggulangannya," sambung Taolin.

Lanjut dia, selain Covid-19 yang mewabah di tahun 2019 di Kabupaten Belu diketahui bahwa selama 5 tahun terakhir tidak terjadi kejadian luar biasa penyakit berpotensi wabah. Hal ini disebabkan karena adanya sistem kewaspadaan dini dan respon (SKDR) yang cepat dan tanggap di tingkat puskesmas sampai ke tingkat pusat.

"Namun keberadaan Kabupaten Belu di wilayah perbatasan antara negara memiliki resiko yang cukup tinggi terjadinya kejadian luar biasa penyakit berpotensi wabah mengingat mobilitas yang tinggi dan hubungan kekerabatan antara penduduk di daerah Belu dan negara tetangga," ungkap Taolin.

Tambah dia, atas nama Pemerintah Kabupaten Belu menyambut baik dan berterimakasih kepada Kementerian Kesehatan RI atas pelaksanaan kegiatan simulasi penanggulangan penyakit berpotensi wabah yang dan dilakukan di PLBN Motaain kabupaten Belu. Sehingga dipahami oleh para pemangku kepentingan sesuai tugas dan tanggung jawabnya sehingga masalah kedaruratan penyakit potensi wabah di Kabupaten Belu dapat ditanggulangi.

"Semoga kegiatan simulasi ini juga memberikan keyakinan kepada masyarakat di Kabupaten Belu dan wisatawan yang akan berkunjung ke perbatasan Belu bahwa Kabupaten Belu aman dan nyaman untuk di kunjungi terutama dari sektor kesehatan," akhir Taolin.

TAGS : Pembangunan Kesehatan Pembangunan Nasional Simulasi penanggulangan wabah