Intensitas Ekspor dari Nusa Tenggara Timur Meningkat

Imanuel Lodja | Senin, 04/01/2021 10:03 WIB

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang, drh Yulius Umbu Hunggar mengakui bahwa, intensintas ekspor dari NTT ke luar negeri meningkat.  Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang, drh Yulius Umbu Hunggar

katantt.com--Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang, drh Yulius Umbu Hunggar mengakui bahwa, intensintas ekspor dari NTT ke luar negeri meningkat.

Pasalnya, Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang saat ini telah melakukan ekspor komoditas pertanian, peternakan dan kehutanan ke Timor Leste dengan intensistas ekspor satu kali dalam seminggu.

"Nilai ekspornya akhir-akhir ini sudah cukup tinggi, rata-rata satu miliar dalam satu kali ekspor. Sebelum Natal itu, sampai Rp 1, 2 miliar," ujarnya kepada wartawan, Senin (4/1).

Selama ini, lanjut dokter Yulius, ekspor komoditi pertanian, peternakan dan kehutanan dilakukan melalui Surabaya.

Karena itu, pihaknya mulai merintis pengiriman secara langsung ke luar negeri untuk memberikan nilai tambah bagi daerah NTT.

Dikatakan drh Yulius, proses pengiriman komoditi harus melalui prosedur dan mekanisme yang ketat serta berdasarkan SOP yang ada.

"Setelah serahkan permohonan, berita acara serah-terima, tindakan karantika, pemeriksaan fisik, klinis, dokumen, pengambilan sampel di laboratorium. Kalau sudah dinyatakan sehat dan disetujui kepala kantor, hewan tersebut siap untuk dikirim," jelasnya.

Sejauh ini, sarana pengiriman komoditi pertanian, peternakan dan kehutanan yang digunakan Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang adalah 5 unit kapal.

Lebih lanjut dikatakan drh Yulius, rata-rata pengiriman hewan setiap bulan mencapai 4 hingga 5 kapal.

Sementara itu setiap kapal memiliki kapasitas muatan 500 hingga 600 ekor hewan.

Pada bulan-bulan yang bertepatan dengan hari raya Lebaran dan Idul Adha, jumlah permintaan hewan mengalami peningkatan.

Secara khusus Pulau Kalimantan dan Pulau Jawa permintaan bisa mencapai 3.000 ekor perbulan.

"Permintaan mulai meningkat sejak bulan empat. Sedangkan pada bulan sebelas mulai menurun," ungkapnya.

Ia menegaskan, pengiriman hewan melalui Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang lebih banyak didominasi dari Kabupaten Kupang, dan TTS.

Proses karantina hewan di Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang, berkisar antara 3 hingga 7 hari.

Saking banyaknya permintaan yang datang, terkadang pihaknya menyewa kapal kargo untuk memback-up pengiriman.

Ia mengakui bahwa, meskipun memiliki 5 kapal pengiriman namun Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang sering mengalami kendala karena banyaknya permintaan yang melebihi kemampuan muatan kapal.

Menurutnya, selain pengiriman hewan Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang juga melakukan pengiriman komoditi masyarakat.

Antara lain kata Yulius, asam, biji gewang, kemiri dan lain-lain. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa, intensitas dan volume pengiriman paling banyak berkisar antara bulan April sampai Oktober.

Pengiriman komoditi pertanian tersebut, rutin dilakukan meskipun dalam jumlah yang sedikit.

"Asam itu salah satu produk ekspor dari NTT. Tetapi selama ini ekspornya belum bisa dilakukan langsung dari NTT. Masih dilakukan via Surabaya," tutupnya.

 

TAGS : Ekspor NTT Meningkat