• Nasional

10 Tahun Konde.co, Memperjuangkan Women, Marginal and Intersection

Reli Hendrikus | Minggu, 07/06/2026 10:15 WIB
10 Tahun Konde.co, Memperjuangkan Women, Marginal and Intersection Kemeriahan HUT X Konde, sebagai media alternatif khusus perempuan di jakarta.

KATANTT.COM--Konde.co, media alternatif perempuan yang memperjuangkan “Women, Marginal and Intersection” di tahun 2026 ini memperingati ulang tahunnya yang ke- 10 tahun.

Merayakan usia 10 tahun pada 8 Maret 2026, Konde.co menggelar sebuah festival bertajuk “KondeFest 2026: Menjumpai Pengalaman, Mengalami Perjumpaan” yang mempertemukan jurnalisme, seni, aktivisme, dan komunitas dalam satu ruang yang hangat dan inklusif. Digelar pada 6 Juni 2026 di Melting Pop, Mbloc, Jakarta Selatan, perayaan ulang tahun ke-10 Konde.co bukan sekadar seremoni, melainkan momen refleksi atas berbagai perjuangan yang telah dilalui bersama sekaligus ajakan untuk membayangkan masa depan yang lebih setara.

KondeFest diisi dengan berbagai macam kegiatan untuk merayakan dan memberdayakan perempuan, kelompok marginal dan melakukan interseksi. Pengunjung menyaksikan pameran seni, mendengarkan musik dari para seniman perempuan lintas generasi, mencicipi Kudapan Marginal, mengikuti Konde Walking Tour, berdiskusi tentang gerakan perempuan, hingga menikmati pertunjukan performative journalism tentang penindasan dan perlawanan perempuan.

Seiring tajuknya, Konde.co dalam momen ini juga meluncurkan buku berjudul “Menjumpai Pengalaman, Mengalami Perjumpaan: Mendisrupsi Gerakan Jurnalisme Publik Perempuan” di KondeFest 2026. Buku yang disusun oleh tim Konde.co, para akademisi, dan Konde Fellas (membership Konde.co) ini membahas tentang gerakan jurnalisme publik yang mendokumentasikan praktik-praktik jurnalisme yang tumbuh dari kebutuhan warga dan gerakan sosial.

Pemimpin Redaksi Konde.co, Luviana Ariyanti menyatakan, buku ini merekam bagaimana media alternatif seperti Konde.co, komunitas, dan masyarakat sipil berkolaborasi menjadikan jurnalisme bukan hanya sebagai alat penyampai pesan, tetapi juga sebagai sarana melihat pemerintahan secara kritis.

“Buku ini menampilkan bagaimana cara membangun solidaritas, mengorganisir pengetahuan, dan mendorong perubahan sosial. Jurnalisme publik adalah jurnalisme yang memperjuangkan publik, yang tidak menghamba pada kekuasaan,” kata Luviana Ariyanti.

Buku ini sebagai pengingat bahwa jurnalisme dilahirkan untuk menuliskan suara publik dan kritis terhadap kekuasaan yang menindas.

Sajian lain yang menjadi sorotan di KondeFest 2026 adalah panggung performative journalism, di mana ditengarai ini merupakan performative journalism yang dilakukan pertama oleh media di Indonesia. Performative journalism ini akan menampilkan sekelumit kisah dari buku berjudul `Pembangunan untuk Siapa?

Kisah Perempuan di Kampung Kami`, yang merupakan kumpulan liputan Konde.co yang diterbitkan Marjin Kiri dan didukung Trend Asia tentang kisah perempuan melawan perusakan lingkungan oleh proyek pembangunan nirperspektif gender di beberapa daerah di Indonesia. Performative journalism adalah sebuah bentuk penyampaian karya jurnalistik melalui seni pertunjukan.

Dalam format ini, berbagai laporan jurnalistik yang ditulis Konde.co yang selama ini hadir dalam bentuk tulisan akan diterjemahkan ke atas panggung melalui perpaduan narasi, gerak, suara, dan ekspresi artistik. Pendekatan ini diharapkan dapat menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dan emosional bagi publik dalam memahami berbagai persoalan yang dihadapi perempuan dan kelompok rentan.

Performative journalism adalah salah satu metode / cara yang mulai muncul di Eropa untuk mendekatkan diri antara media dan pembacanya dengan membawakan isu publik yang dialami oleh publik / pembacanya.

Sementara itu, KondeFest juga menghadirkan Dialog Nasional `Women, Environment, Intersection` yang membahas tentang sejarah dan aksi gerakan perempuan dalam mengawal keadilan lingkungan yang interseksional.

Dialog ini diisi oleh sejumlah pembicara yang aktif terlibat dalam gerakan perempuan, lingkungan, dan demokrasi. Antara lain Dorothea Wabiser, aktivis Papua dan Staf Komunikasi dan Kampanye PUSAKA; Ita Fatia Nadia, sejarawan feminis dan Ketua Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan; Prof. Masduki, Guru Besar Komunikasi dan pengamat media dari Universitas Islam Indonesia (UII); dan Bivitri Susanti, akademisi, peneliti, dan pakar hukum tata negara; serta dimoderatori oleh Vivi Widyawati dari Perempuan Mahardhika.

Festival ini juga menghadirkan orasi orang-orang muda, dan orasi perempuan lintas generasi yang mempertemukan para perempuan dan masyarakat dari berbagai latar belakang—pejuang hak asasi manusia, aktivis perempuan, individu kritis, hingga pelajar dan generasi muda yang hari ini melanjutkan berbagai perjuangan untuk keadilan sosial.

“Di tengah situasi demokrasi yang menghadapi banyak tantangan, ruang perjumpaan semacam ini menjadi penting untuk merawat ingatan kolektif, membangun konsolidasi atas dasar keresahan bersama, sekaligus menumbuhkan harapan,” kata Ketua Panitia sekaligus Manajer Eksekutif Konde.co, Nabila Wahyu.

Tidak hanya berbicara tentang gagasan dan advokasi, KondeFest 2026 juga memberi ruang bagi seni yang kritis dan praktik ekonomi komunitas. Para pengunjung disuguhi penampilan musik yang merdu sekaligus menggugah semangat perempuan dari Paduan Suara Gitaku, Dialita Choir, dan Sudut Jentera.

Pengunjung juga dapat menikmati berbagai kudapan marjinal berupa makanan tradisional yang diproduksi oleh perempuan dan kelompok marginal dari JALA PRT, Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), Koperasi Buruh Perempuan Bestari Sejahtera, dan Roti Pamur yang dibuat oleh kelompok minoritas seksual dan gender. Ini sekaligus untuk mengenal cerita, kerja, dan daya hidup yang tumbuh dari komunitas-komunitas tersebut.

Selama sepuluh tahun terakhir, Konde.co hadir sebagai ruang bagi perempuan, kelompok marginal, dan mereka yang sering kali tidak mendapatkan tempat yang layak dalam pemberitaan media. Dari cerita tentang perjuangan buruh perempuan, disabilitas, masyarakat adat, komunitas ragam gender dan seksualitas, hingga warga di berbagai daerah yang terdampak pembangunan yang tidak adil, Konde.co berupaya memastikan bahwa suara mereka tidak hilang dari percakapan publik. Satu dekade menjadi perjalanan dengan banyak cerita yang selama ini dipinggirkan.

“Selama sepuluh tahun, Konde.co belajar bahwa jurnalisme tidak hanya soal memberitakan peristiwa. Jurnalisme juga tentang membangun hubungan, mendengarkan pengalaman hidup masyarakat, dan membuka ruang bagi mereka yang selama ini tidak didengar,” kata Luviana Ariyanti.

Perayaan ini adalah bentuk terima kasih kepada seluruh komunitas, pembaca, narasumber, kontributor, dan gerakan sosial yang telah berjalan bersama Konde.co.

Di tengah derasnya arus informasi dan semakin menyempitnya ruang demokrasi, Konde.co percaya bahwa jurnalisme yang berpihak pada publik tetap dibutuhkan. Karena itu, perayaan satu dekade ini tidak hanya menjadi penanda usia sebuah media, tetapi juga pengingat bahwa masih ada banyak cerita yang harus diperjuangkan, banyak suara yang perlu didengar, dan banyak masa depan yang perlu dibangun bersama.

FOLLOW US