Jenazah pasutri asal Austria korban kecelakaan di Cunca Wulang diberangkatkan dari RSUD Komodo menuju Bali untuk dikremasi, Rabu (3/6/2026).
KATANTT.COM---Jenazah pasangan suami istri (pasutri) warga negara asing (WNA) asal Austria yang meninggal dunia akibat kecelakaan di objek wisata alam Air Terjun Cunca Wulang, Kabupaten Manggarai Barat, telah diterbangkan menuju Denpasar, Bali, pada Rabu (3/6/2026). Pemulangan tersebut dilakukan atas permintaan resmi dari pihak keluarga.
Kedua korban, yang diidentifikasi bernama Jurgen Perjul (54) dan Astrid Perjul (56), dilaporkan terjatuh akibat runtuhnya papan kayu pada lantai jembatan gantung di kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang pada Minggu (24/5/2026). Keduanya terjatuh ke dasar sungai dari ketinggian sekitar 10 meter. Benturan keras pada bagian vital menyebabkan kedua korban meninggal dunia di lokasi kejadian.
Sejak hari kejadian, jenazah kedua korban disemayamkan di ruang pemulasaran RSUD Komodo Labuan Bajo guna menunggu penyelesaian pengurusan administrasi dari pihak kedutaan dan keluarga.
Setelah sepuluh hari disemayamkan, jenazah kemudian diberangkatkan menggunakan ambulans dari RSUD Komodo menuju Bandara Internasional Komodo pada pukul 06.05 WITA, dengan pengawalan ketat dari jajaran Polres Manggarai Barat.
"Jenazah kami kawal langsung dari RSUD Komodo menuju bandara. Seluruh prosedur identifikasi telah kami rampungkan untuk proses serah terima di Bali nanti," tegas Kasat Reskrim Polres Manggarai Barat, AKP Lufthi Darmawan Aditya, S.T.K., S.I.K., M.H., saat dikonfirmasi.
Setibanya di bandara pukul 06.30 WITA, peti jenazah beserta barang-barang pribadi korban menjalani pemeriksaan dokumen secara intensif oleh pihak Karantina Kesehatan dan Imigrasi. Hal ini dilakukan guna memastikan kepatuhan terhadap protokol kesehatan internasional sebelum masuk ke dalam manifes penerbangan.
"Pemeriksaan ini wajib dilakukan. Ini merupakan protokol kesehatan internasional yang ketat bagi pengiriman jenazah WNA," tambah Lufthi.
Pemberangkatan kedua jenazah ke Bali merupakan langkah awal sebelum abu jenazah mereka dipulangkan ke negara asal. Anak kandung korban dilaporkan telah berada di Denpasar untuk menerima langsung jenazah orang tuanya.
"Berdasarkan hasil koordinasi dengan Kedutaan Besar Austria, jenazah dikirim ke Bali untuk proses kremasi terlebih dahulu. Setelah itu, abu jenazah baru diteruskan ke Austria," ungkap Lufthi menjelaskan rencana repatriasi tersebut.
Seluruh barang pribadi milik pasutri tersebut juga telah dikemas dalam satu koper khusus dan dikirimkan bersamaan dengan peti jenazah.
"Korban diterbangkan menggunakan maskapai Batik Air dengan nomor penerbangan ID-6332 pada pukul 09.50 Wita menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali," jelasnya.
Dikarenakan tidak ada sanak saudara korban di Labuan Bajo, pihak RSUD Komodo mengambil tanggung jawab untuk mengantarkan korban hingga ke pihak otoritas negara mereka. Kepala Kamar Jenazah RSUD Komodo, Agustinus Janggu, diutus langsung untuk mendampingi penerbangan tersebut berdasarkan surat kuasa resmi dari keluarga korban.
"Karena tidak ada anggota keluarga di Labuan Bajo, jenazah didampingi langsung oleh perwakilan rumah sakit untuk diserahkan kepada Kedutaan Besar Austria di Bali," tutur Lufthi.
Kasus kematian tragis pasutri ini sempat menarik perhatian publik di kawasan wisata premium Labuan Bajo. Selama 10 hari masa penantian di rumah sakit, otoritas setempat terus berkoordinasi secara intensif dengan Kedutaan Besar Austria guna mengatasi kendala bahasa serta birokrasi internasional yang sempat menghambat proses pemulangan.
"Dengan keberangkatan ini, wewenang penanganan jenazah kini sepenuhnya beralih kepada pihak Kedutaan Austria di Denpasar sebelum nantinya menempuh perjalanan jauh kembali ke Austria," pungkas Kasat Reskrim.