Menambal Hidup dari Sisa Kota: Lima Tahun Perjuangan Benyamin dan Melsi di TPA Poco

Wilibrodus Jatam | Kamis, 09/10/2025 06:45 WIB

KATANTT.COM---Di balik hamparan sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ncolang, Desa Poco, Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai, berdenyut sebuah kisah yang tak kalah berharga dari logam atau botol plastik yang mereka pungut setiap hari.
  Di tengah tumpukan sampah dan kerasnya hidup, pasangan suami istri asal Desa Poco, Kecamatan Wae Rii, ini tetap teguh bekerja sebagai pemulung demi masa depan anak-anak mereka.
KATANTT.COM---Di balik hamparan sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ncolang, Desa Poco, Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai, berdenyut sebuah kisah yang tak kalah berharga dari logam atau botol plastik yang mereka pungut setiap hari.
 
Kisah itu tentang Benyamin Sawu (40) dan istrinya, Melsi Diana Yanti (38), sepasang suami istri yang menambal hidup dari sisa-sisa peradaban kota, namun tak pernah kehilangan cahaya harapan di mata mereka.
 
Setiap pagi, saat kabut masih bergelayut di perbukitan Manggarai dan sinar mentari baru mengintip di balik rimbun pohon, Benyamin sudah menyiapkan karung besar di pundaknya. 
 
Langkahnya menuju TPA bukan sekadar perjalanan mencari rezeki, melainkan napas perjuangan yang ia hembuskan saban hari untuk keluarga kecilnya.
 
"Botol air mineral harganya tiga ribu rupiah per kilo, kardus seribu, seng bekas lima ratus,"ujarnya pelan sambil memilah sampah yang masih basah oleh sisa hujan semalam. Tangannya cekatan, matanya tajam menyeleksi antara limbah dan rupiah. "Kalau sedang ramai, sebulan bisa dapat sekitar satu juta."
 
Uang itu tak besar, tapi cukup untuk menyalakan dapur, membeli buku sekolah, dan membayar seragam anak-anaknya. Baginya, rezeki bukan soal jumlah, melainkan hasil dari peluh yang jujur.
 
Sebelum menjadi pemulung, Benyamin adalah sopir angkutan umum di Ruteng. Jalanan kota dulu menjadi saksi bisu kehidupannya yang bergantung pada banyaknya penumpang dan harga bensin yang kian melambung. 
 
Namun ketika roda rezeki berhenti berputar, ia memilih jalan baru, bukan dengan menyerah, tapi dengan beralih menjadi pemulung di TPA Ncolang.
 
"Yang penting anak-anak bisa tetap sekolah," katanya dengan senyum yang menahan getir. "Dua sudah tamat SMA, satu masih SMP, satu lagi SD."
 
Di tengah kabut bau dan panas menyengat, Benyamin memaknai setiap karung yang terisi sebagai simbol cinta dan tanggung jawab. Ia bekerja sejak pagi hingga sore, terkadang membantu petugas kebersihan memilah sampah organik dan anorganik agar proses pengolahan lebih cepat.
 
Bagi sebagian orang, TPA adalah tempat tak layak dikunjungi. Namun bagi Benyamin dan Melsi, di sanalah kehidupan tumbuh dari tumpukan yang dibuang orang lain.
 
Mereka menyusuri timbunan sampah dengan kesabaran seorang petani yang menanti panen. Hujan, panas, dan bau menyengat bukan lagi rintangan, semuanya telah menjadi bagian dari napas mereka.
 
"Tidak semua orang mau bekerja seperti ini," ucap Benyamin sambil menatap jauh ke arah truk yang baru menurunkan muatan. "Tapi saya bangga. Dari sini, saya bisa sekolahkan anak-anak saya."
 
Di sela-sela pekerjaannya, ia memanfaatkan sisa makanan yang masih layak untuk pakan ternak.
 
"Kadang kami bawa pulang sisa sayur atau nasi basi untuk makanan babi," ujarnya. "Setidaknya bisa mengurangi biaya pakan."
 
Melsi, sang istri, adalah sosok yang tak kalah kuat. Setiap hari, ia ikut ke TPA dengan langkah mantap, menempuh jarak beberapa kilometer dari rumah mereka di Desa Poco.
 
Di wajahnya, tak ada keluh yang tersisa, hanya keteguhan yang tumbuh dari cinta dan tanggung jawab.
 
"Capek, iya. Tapi kami sudah terbiasa," katanya sambil menata botol bekas di karung. "Yang penting rezeki yang kami dapat halal."
 
Keduanya bekerja dalam senyap, di tengah hiruk pikuk lalat yang beterbangan. Namun di balik kesunyian itu, ada suara yang lebih nyaring dari apa pun yakni suara harapan.
 
Kisah Benyamin dan Melsi bukan sekadar cerita tentang kemiskinan, melainkan tentang martabat. Tentang manusia yang menolak menyerah meski hidup menempatkan mereka di pinggir tumpukan sampah.
 
Mereka adalah cermin dari keteguhan hati yang tak mudah patah oleh nasib. Di tangan mereka, sisa-sisa kota yang dibuang menjadi sumber kehidupan. 
 
Di hati mereka, mimpi tentang masa depan anak-anak tetap menyala, meski di sekelilingnya dunia seakan berbau busuk.
 
"Selama masih ada tenaga, saya akan terus kerja," tutur Benyamin lirih. "Sampah boleh busuk, tapi harapan tidak."
 
Di TPA Ncolang, kehidupan berputar dengan cara yang berbeda. Dari sisa makanan, botol plastik, hingga logam berkarat, semua menjadi saksi bisu perjuangan orang-orang kecil yang menyulam hidup dari yang dibuang.
 
Benyamin dan Melsi mungkin hidup di antara sampah, tapi hati mereka tetap bersih oleh kejujuran dan kerja keras. Sebab mereka tahu, tak ada pekerjaan yang hina selama itu dilakukan dengan tulus dan demi cinta.
 
TAGS : Menambal Hidup Sisa Kota Lima Tahun Perjuangan Benyamin dan Melsi TPA Poco