KATANTT.COM---Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Yayasan Kerja Peduli Bangsa (YKPB) bersama Badan Gizi Nasional (BGN) di La’o Lanar mendapat apresiasi dari mitra pelaksana, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sistem tata kelola keuangan yang transparan dan akuntabel dinilai menjadi kunci keberhasilan program ini.
Hal tersebut disampaikan perwakilan mitra YKPB, Bona Onggot. Menurutnya, seluruh pembayaran baik gaji karyawan, pembelian bahan baku, maupun belanja operasional lainnya telah dilakukan secara langsung (direct transfer) melalui rekening masing-masing penerima, tanpa melalui pihak ketiga ataupun pembayaran tunai.
"Kami senang karena semua pembayaran dilakukan langsung ke rekening penerima, baik karyawan maupun suplier bahan baku. Tidak ada pembayaran tunai. Cara ini cepat, transparan, tidak bertele-tele, dan bisa dipertanggungjawabkan," ungkap Bona, Sabtu (6/9/2025).
Karyawan Sebagai Garda Terdepan
Bona menjelaskan, pada pembayaran perdana yang dilakukan setelah dua minggu berjalan, seluruh karyawan sudah menerima haknya secara penuh. Hal ini dianggap penting karena karyawan adalah garda terdepan yang menjalankan kegiatan operasional SPPG di lapangan.
"Perhatian utama kami sebagai mitra adalah memastikan karyawan dibayar tepat waktu. Mereka sudah memahami tugas pokok dan fungsinya sejak pembekalan oleh tim BGN, dan sejauh ini pelaksanaan berjalan cukup baik," ujarnya.
Penggunaan Aplikasi QLola dari BRI
Lebih lanjut, Bona menegaskan sistem pembayaran yang menggunakan aplikasi QLola dari BRI sangat membantu mencegah potensi penyimpangan keuangan. Dengan pola ini, uang tidak pernah singgah di kas mitra, melainkan langsung dibayarkan melalui sistem perbankan.
"Kalau uang dibayar secara tunai dan berpindah-pindah tangan, bisa menimbulkan keterlambatan bahkan peluang penyimpangan. Dengan aplikasi ini, semua tercatat, transparan, dan akuntabel," jelasnya.
Serap Tenaga Kerja Lokal
Menurut Bona, SPPG La’o Lanar saat ini mempekerjakan 50 karyawan, terdiri dari tiga orang staf BGN, satu asisten lapangan, serta 46 tenaga kerja lokal. Seluruh karyawan lokal mendapat upah Rp100.000 per hari dengan jam kerja delapan jam.
Selain itu, mayoritas suplier bahan baku juga berasal dari warga setempat, mulai dari petani sayur, pemasok beras, hingga produsen tahu-tempe. Hal ini dinilai membawa dampak positif bagi perekonomian lokal.
"Kami tentu senang karena program MBG ini tidak hanya meningkatkan gizi masyarakat, tetapi juga menyerap tenaga kerja lokal sekaligus memberdayakan usaha kecil dan menengah di sekitar La’o Lanar. Ada perputaran uang yang nyata di masyarakat," tutup Bona.