
cover buku
katantt.com--Perkumpulan Jaringan Perempuan Indonesia Timur untuk Studi Perempuan, Agama, dan Budaya (JPIT-SPAB) meluncurkan dan menyelenggarakan diskusi publik secara daring atas hasil penelitian yang diterbitkan dalam bentuk buku. Peluncuran buku dirangkai dengan bedah buku ini dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dari tanggal 25 November–10 Desember 2021.
"Buku ini berjudul Perempuan, Konflik, dan Perdamaian: Tuturan Perempuan Korban dan Penyintas Konflik dan Perdamaian di Poso, Ambon dan Atambua yang akan diluncurkan pada 29 November 2021," kata Pendeta Yetty Leyloh, STh selaku Perwakilan dari Badan Pengurus JPIT saat jumpa pers bersama wartawan secara webinar, Minggu (28/11/2021).
Pdt Yetty Leyloh yang menjabat sebagai Bendahara JPIT menambahkan hasil penelitian dan dokumentasi ini meliputi proses cukup panjang dari 2014 sampai dengan 2021—menelusuri peran perempuan akar rumputm aupun tokoh agama dan budaya dalam komunitas yang mengalami konflik di tiga wilayah Indonesia Timur: Poso, Ambon, dan Atambua.
Dua wilayah pertama kata dia, pernah mengalami konflik bernuansa agama, sedangkan wilayah ketiga masih merasakan dampak dari konflik bersenjata bertahun-tahun di Timor-Leste bernuansa politik yang memuncak pada saat jajak pendapat 1999 di sana dan gelombang besar pengungsian ke Timor Barat setelahnya.
Sementara Pdt. Dr. Mery Kolimon selaku Ketua Tim Editor menyatakan sebanyak 125 narasumber yang terdiri dari perempuan korban dan penyintas konflik, pekerja kemanusiaan, pemimpin agama, dan budayawan di tiga wilayah konflik tersebut terlibat dalam penelitian.
Pendeta Merry yang terlibat penelitian ini sebelum terpilih sebagai Ketua Majelis Sinode GMIT mengaku mereka (narasumber Red) bersedia menuturkan pengalaman kekerasan dan trauma yang dialami dan juga harapan yang dapat menginspirasi gerakan perdamaian yang lebih luas dan bermakna.
"Dari kisah mereka kita dapat belajar bahwa pada saat konflik maupun pasca konflik, perempuan harus memikul beban ganda sekaligus hidup dengan dampak psikologis yang berat," ujarnya.
"Namun demikian, perempuan dapat pula menjadi subyek yang menjembatani perdamaian di antara komunitas-komunitas yang bertikai atau, sebaliknya, menjadi subyek yang memperburuk situasi konflik tersebut," sambung Pendeta Merry.
Para peneliti dan penulis buku ini merupakan para perempuan penggerak perdamaian dan kesetaraan di Indonesia Timur, sebagiannya adalah penyintas konflik yang berani untuk menuliskan kisah mereka sendiri.
Ia mengatakan laporan akhir yang ada di tangan pembaca saat ini telah lebih dahulu dibaca secara mendalam dan dikomentari secara kritis oleh belasan sahabat JPIT, para peneliti, penulis, teolog, pengajar, serta tokoh publik yang berpengalaman di isu perempuan, agama, dan budaya.
"Beberapa komentar dapat dibaca pada pengantar dan endorsement yang terdapat di kulit belakang buku," ujarnya.
JPIT juga mengundang empat orang sahabat yang akan membedah buku ini secara kritis dalam acara peluncuran, yaitu Kamala Candrakirana (mantan Ketua Komnas Perempuan 2003¬–2009), John Prior, SVD (dosen STFK Ledalero), Dr. Ira Mangililo (teolog feminis GMIT/pengajar pada PPS UKAW), dan Pdt. Dr. HC. Jacklevyn F. Manuputty (penggerak perdamaian di Ambon dan Sekum PGI).
Sementara Lian Gogali, peneliti di wilayah Poso menjelaskan penelitian dan pendokumentasian ini digerakkan oleh kesadaran bahwa dalam sejarah, bahkan sampai masa kini, Indonesia rentan terhadap kekerasan massal yang dipicu oleh radikalisme, terorisme, dan pemanfaatan identitas budaya dan agama demi kepentingan politik dan konflik sumber daya alam.
"Karena itu, tuturan-tuturan perempuan dalam buku ini diharapkan mendorong kita belajar dari sejarah konflik dan berani untuk bersuara bagi keadilan dan perdamaian, serta mencari cara bersama menjaga rumah bangsa tercinta demi Indonesia yang lebih adil dan beradab," katanya.
Lian Gogali menambahkan buku ini mulai dengan sebuah pengantar yang menjelaskan inspirasi awal untuk studi ini serta sejumlah hal terkait proses penelitian maupun proses penulisan temuan-temuan, termasuk tantangan-tantangan yang dihadapi.
"Bab 2 sampai Bab 4 meliputi tuturan para perempuan korban dan penyintas yang disusun secara kronologis konflik sebagaimana berdampak di Indonesia, mulai dengan konteks di Poso, baru di Ambon, kemudian di Atambua." ujarnya.
Penyusunan ini membantu menggambarkan konsentrasi konflik di Indonesia Timur menyusul kelengseran mantan Presiden Suharto pada Mei 1998. Masing-masing tim wilayah menghasilkan satu bab tersebut. Bab 5, “Belajar Bersama”, merupakan refleksi dan analisis terhadap kompilasi tuturan perempuan yang direkam dalam bab-bab sebelumnya, termasuk bagaimana perempuan menghadapi ataupun terlibat di dalam konflik bersenjata.
Selain itu ada juga refleksi mengenai perempuan yang mampu mentransformasi diri maupun lingkungan di sekitarnya demi kehidupan damai ke depan. Buku dilengkapi dengan sejumlah daftar seperti daftar singkatan dan istilah-istilah lokal demi pemeliharaan integritas suara asli perempuan yang dikutip.
Ketua JPIT, Pendeta Paoina Bara Pa mengakui beberapa lampiran membantu memberi konteks lebih luas untuk mendalami makna tuturan-tuturan perempuan.
Lampiran tersebut terdiri dari kata dia, antara lain, garis waktu peristiwa penting terkait perkembangan konflik maupun perdamaian; perjanjian perdamaian formal di Poso dan Ambon; dan penambahan penjelasan singkat tentang sejarah konflik kekerasan di Timor-Leste yang bermuara pada perjuangan kehidupan bagi para pengungsi di wilayah Atambua.
Karena berbagai keterbatasan JPIT jelas dia, cita-cita awal dari penelitian ini sebagai sebuah riset yang berujung pada aksi penguatan perdamaian di lapangan belum dapat terwujud," jelasnya.
"Semoga buku ini dapat berkontribusi secara positif bagi penelitian yang lebih mendalam di masa depan maupun dapat menjadi salah satu sumber belajar bagi pemerintah, pengambil dan pemangku kebijakan, tokoh dan komunitas agama dan budaya, instansi pendidikan, serta berbagai unsur masyarakat sipil lainnya yang bergerak untuk isu perdamaian dan penguatan demokrasi di Indonesia," ungkapnya.
TAGS : JPIT Bedah Buku Peluncuran Buku