Perubahan iklim merupakan krisis global yang dampaknya dirasakan secara nyata dan semakin akut, terutama oleh masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah rentan di Indonesia. Dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta yang menghadapi tantangan banjir dan polusi, hingga wilayah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), NTB, dan Papua yang berjuang menghadapi krisis ekologi, krisis air, cuaca ekstrem, dan ancaman ketahanan pangan—masyarakat adat dan lokal berada di garis depan perjuangan menghadapi krisis ini. Namun, di balik tantangan tersebut, tumbuh beragam inisiatif lokal yang sarat inovasi, memanfaatkan pengetahuan adat berbasis kearifan lokal, pengalaman langsung, dan semangat gotong royong.
Kota Kupang sebagai ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk salah satu daerah yang rentan dilanda bencana alam. Edukasi terhadap bencana perlu diberikan kepada masyarakat Kota Kupang agar tanggap menghadapinya.