• Nusa Tenggara Timur

Ketika Dokter Vonis Sisa Umur Tinggal 3 Hari, ODHA Ini Malah Dirikan LSM Dampingi ODHA di Kupang

Imanuel Lodja | Selasa, 12/10/2021 13:57 WIB
 Ketika Dokter Vonis Sisa Umur Tinggal 3 Hari, ODHA Ini Malah Dirikan LSM Dampingi ODHA di Kupang Welhelmus Eduardus Nahak

katantt.com--Nasib seseorang tidak ada yang bisa menentukan. Hidup dan mati bagi manusia adalah rencana Tuhan.

Begitu pula, Welhelmus Eduardus Nahak alias Emu (48) merupakan salah satu Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang masih bertahan hidup hingga saat ini.

Awalnya pada tahun 2010 lalu, saat menderita HIV dan dirawat dua pekan di rumah sakit, Emu divonis dokter hanya bisa bertahan hidup 3 hari.

Dua pekan ia berjuang melawan virus tersebut. Dukungan dari istri dan anak sulungnya menjadikan ayah tiga anak ini bisa melewati masa kritis dan bisa bertahan hidup hingga saat ini walaupun harus mengkonsumsi obat seumur hidup.

Pengalaman menjadi ODHA menjadikannya motivasi untuk menjadi konselor dan motivator bagi para ODHA yang lain.

Ditemui di kediamannya di RT 07/RW 03, Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Emu yang saat ini aktif sebagai Relawan penanggulangan bencana alam (Tagana) NTT ini mengaku kalau kehidupan bebas yang dijalani menjadikan nya menderita HIV/AIDS.

Saat menikah pada tahun 1996 lalu, ia masih sehat walafiat hingga memiliki tiga orang anak. Namun karena kehidupan yang kurang terkontrol maka ia pun terkena virus HIV. Saat masuk rumah sakit, bukan saja menderita HIV namun ada pula penyakit lain yakni TB Paru.

Ia pun nyaris lumpuh dan tak berdaya dengan sakit yang diderita saat itu. Hal ini menjadikan nya putus harapan dan drop.

Dua minggu menjalani perawatan dan adanya vonis dokter yang menyatakan kalau ia hanya bisa bertahan hidup tiga hari lagi sempat membuatnya cemas dan tak berdaya.

Namun ia bersyukur mendapat dukungan penuh dari istri dan anak nya yang dengan setia merawat dan memperhatikannya.

Hingga dua pekan terlewati dan ia mulai sembuh. Ia bisa kembali ke rumah dengan sejumlah resep dokter. Ia juga harus mengkonsumsi obat sepanjang hidupnya. "Harus telaten dan tertib konsumsi obatnya," tandas Emu.

Ia pun berkeyakinan bahwa ODHA bisa hidup asalkan ada kemauan dan motivasi untuk sehat dan hidup. "Banyak yang tidak percaya bawa ODHA bisa hidup sehat kembali. Saya sudah 11 tahun hidup pasca terinfeksi HIV dan tetap bisa beraktivitas," ujarnya.

Berbekal penderitaan dan pengalaman menjadi ODHA, Ia pun mendirikan LSM Perjuangan sebagai rumah singgah bagi ODHA.

Sebelumnya selama tiga tahun ia menjadi relawan pada LSM Flobamor Jaya Peduli, LSM yang juga peduli pada ODHA.

Namun sejak 14 Februari 2014 lalu, ia menggagas pendirian LSM Perjuangan setelah ia kembali mengikuti pelatihan konselor di Yogyakarta.

Malahan diriya sempat memeriksakan kesehatannya di rumah sakit serta dinyatakan sehat walaupun tetap mengkonsumsi obat-obatan karena secara medis belum ada obat yang menyembuhkan HIV/AIDS.

LSM Perjuangan yang dirintisnya mendampingi dan merawat sejumlah warga yang terkena HIV dan merupakan penderita AIDS.

Ia menyadari banyak ODHA yang cenderung tertutup dan tidak terbuka akan keadaannya kepada keluarga dan lingkungan. Padahal, keterbukaan sangat penting sehingga ada dukungan keluarga dan lingkungan.

Selain itu Emu Sadar tingginya penderita AIDS yang meninggal beberapa waktu lalu karena para penderita cenderung menutup diri dan tidak terbuka sehingga sulit dirawat.

Ia juga menepis anggapan kalau orang terinfeksi HIV/AIDS karena pergaulan bebas dan menikmati dunia malam. Namun anggapan tersebut dianggap keliru karena kebanyakan ODHA adalah ibu rumah tangga, ada tokoh agama, ada perawat dan bukan saja dari anak muda.

"LSM yang saya dirikan adalah karena pengalaman pribadi dan LSM ini dari orang sakit untuk orang sakit sehingga saya memberikan pendampingan," ujarnya.

Bahkan beberapa ODHA yang pernah dirawat di LSM Perjuangan saat ini sudah sembuh dan sudah menjadi relawan bagi penderita lain.

Dampingan yang dilakukan yakni layanan kesehatan dan terapi HIV dengan mengingatkan penderita agar mengkonsumsi obat tepat waktu. LSM-nya juga mendampingi keluarga ODHA agar menjadi Pengawas Minum Obat (PMO) bagi ODHA itu sendiri.

Disadari pula kalau para ODHA kesulitan mendapatkan pekerjaan karena adanya stigma negatif dari masyarakat terkait keberadaan ODHA.

Untuk itu LSM Perjuangan melakukan pemberdayaan ekonomi dan memberikan modal usaha sehingga saat ini banyak ODHA yang memiliki usaha mandiri seperti warung makan, mebel dan kios.

"Pendampingan oleh LSM Perjuangan pun dilakukan sepanjang masa tanpa batas waktu," ujarnya.

Ia juga bersyukur dengan dukungan dari pemerintah karena saat ini di setiap kelurahan di Kota Kupang sudah ada wadah Warga Peduli Aids (WPA) yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Emu sendiri mengaku kalau LSM nya sempat mendapatkan bantuan Pemerintah Provinsi NTT dan Kota Kupang namun saat ini ia ingin LSM nya tidak dimanja sehingga masih menutup diri dengan donatur dari lembaga lain.

Saat ini ia masih menampung dua orang warga yang menderita HIV/AIDS di rumahnya sejak tahun 2019 lalu.

Ia bersyukur kalau para penderita ini sudah mulai pulih dan sudah bisa berjalan walau belum sepenuhnya normal karena sebelumnya mengalami kelumpuhan.

Emu meyakinkan bahwa ODHA bisa bertahan hidup jika mereka ditangani secara baik dan tidak menjadikan ODHA sebagai aib.

LSM Perjuangan pun saat ini juga mendampingi PSK jalanan dan pelaku pitrad dengan melakukan tes HIV per tiga bulan serta membagikan kondom secara gratis.

LSM nya pun gencar melakukan sosialisasi sehingga warga di sekitar tempat tinggal Emu pun mulai bisa menerima kehadiran LSM tersebut maupun aktivitas LSM mendampingi para penderita HIV/AIDS yang dirawat di LSM Perjuangan tersebut.

Untuk saat ini LSM Perjuangan juga mendampingi 214 ODHA di Kota Kupang, 350 ODHA di Kabupaten TTS dan sejumlah ODHA lain di Kabupaten Malaka, Belu, Rote Ndao,Sabu Raijua, Kabupaten Kupang dan Alor.

Ia berharap ODHA tidak dikucilkan dan didiskriminasi di dunia kerja tetapi diberikan peluang yang sama karena ODHA bisa sembuh asalkan ada keterbukaan dan niat yang tulus.

FOLLOW US